Sebenernya
kalo dipikir2 kuliah nggak banyak tuh dapet ilmu kejuruannya, lebih dapet
"judul materi" terus di gali kalo sempet. Masuk kemudian Cuma niat absen dan duduk diam
menghargai dosen sang pemberi nilai. Belajarnya pun baru keluarnya gregetnya
kalo ada tugas dan ujian. Sekali lagi itu jg Cuma seperlunya. Surface learner
kalo temanku suka ngomong. Terus ngapain
kuliah?
Pertanyaan bagus. Setelah ber semester – semester
nyemplung di kampus, sebenernya ketemu dengan banyak orang, berinteraksi dgn
dosen dan orang2 ini yang jadi masalah. Bukan masalah sih, tapi jadi penting.
Pengalaman interaktif ini yang kemudian banyak jadi renungan. Jauh banyak
menyita pikir daripada materi kuliahnya, kecuali materi kuliah ternyata
kesangkut aja ama topik2 renungan tadi.
Dari interaksi ini misalnya, ada istilah ketok tembok,
pesantren – sekolah islam, 3 inti keshalehan, sampe kebenenaran semu.semua yang
kalo diceritain bisa makan porsi satu artikel sendiri. Semua nya kemudian yang
jadi ilmu hidup. Ilmu biar bisa hidup di dunia tentu aja. Ilmunya orang2 biar
bisa paham betapa menakjubkannya, hebatnya, ancurnya, korupnya dunia. Semua
campur aduk bukan Cuma satu persatu. Dari yang suci banget kayak Tuhan, sampe
yang hina banget seperti kita.
Itulah kenapa anggapanku tentang pendidikan yang “tidak
akan mungkin bakal bisa” berorientasi pada hasil, yang “dicoba” mengacu pada
jawaban kita tentang tulisan 3-5 lembar pertanyaan tentang pilihan maupun essay
yang nggak mewakili diri kita.
Tapi jangan salahkan hasil yang tidak memuaskan hasrat
kita tentang refleksi diri. Pada akhirnya kita juga harus ngerti. Ada langkah
prosedural, protokoler ato apalah itu. Yang secara tidak sadar sudah kita emban
sejak kita menyetujui mengikuti sebuah pendidikan formal. Yang mana hasilnya
“masih” harus berorientasi pada hasil “akhir”.
Seperti yang udah2 manusia dituntut memahami manusia
lain, dunianya, dan apa aja yang ambil bagian didalamnya. Terlalu banyak yang
dipikir? Pikir aja simpelnya. Harus saling memahami dan memaklumi. Simpel.
Susah.

