Rabu, 29 Oktober 2014

Malam abis ngerjain tugas



Sebenernya kalo dipikir2 kuliah nggak banyak tuh dapet ilmu kejuruannya, lebih dapet "judul materi" terus di gali kalo sempet. Masuk kemudian Cuma niat absen dan duduk diam menghargai dosen sang pemberi nilai. Belajarnya pun baru keluarnya gregetnya kalo ada tugas dan ujian. Sekali lagi itu jg Cuma seperlunya. Surface learner kalo temanku suka ngomong. Terus ngapain kuliah?
Pertanyaan bagus. Setelah ber semester – semester nyemplung di kampus, sebenernya ketemu dengan banyak orang, berinteraksi dgn dosen dan orang2 ini yang jadi masalah. Bukan masalah sih, tapi jadi penting. Pengalaman interaktif ini yang kemudian banyak jadi renungan. Jauh banyak menyita pikir daripada materi kuliahnya, kecuali materi kuliah ternyata kesangkut aja ama topik2 renungan tadi.
Dari interaksi ini misalnya, ada istilah ketok tembok, pesantren – sekolah islam, 3 inti keshalehan, sampe kebenenaran semu.semua yang kalo diceritain bisa makan porsi satu artikel sendiri. Semua nya kemudian yang jadi ilmu hidup. Ilmu biar bisa hidup di dunia tentu aja. Ilmunya orang2 biar bisa paham betapa menakjubkannya, hebatnya, ancurnya, korupnya dunia. Semua campur aduk bukan Cuma satu persatu. Dari yang suci banget kayak Tuhan, sampe yang hina banget seperti kita.
Itulah kenapa anggapanku tentang pendidikan yang “tidak akan mungkin bakal bisa” berorientasi pada hasil, yang “dicoba” mengacu pada jawaban kita tentang tulisan 3-5 lembar pertanyaan tentang pilihan maupun essay yang nggak mewakili diri kita.
Tapi jangan salahkan hasil yang tidak memuaskan hasrat kita tentang refleksi diri. Pada akhirnya kita juga harus ngerti. Ada langkah prosedural, protokoler ato apalah itu. Yang secara tidak sadar sudah kita emban sejak kita menyetujui mengikuti sebuah pendidikan formal. Yang mana hasilnya “masih” harus berorientasi pada hasil “akhir”.
Seperti yang udah2 manusia dituntut memahami manusia lain, dunianya, dan apa aja yang ambil bagian didalamnya. Terlalu banyak yang dipikir? Pikir aja simpelnya. Harus saling memahami dan memaklumi. Simpel. Susah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar